Pages

Wednesday, 3 February 2010

KEKUASAAN SERING DISALAHGUNAKAN

a.Cerita Pengantar
            Suatu sore, seorang raja zalim mengundang seorang guru sufi ke istananya. Dia ingin mengetahui kearifan dan kebijaksanaan sang guru sufi. Tapi, apa yang menarik dari kelakuan raja zalim ini adalah apabila dia minta penjelasan dari seseorang tapi kemudian dirasa tidak menyenangkan dan memuaskan hatinya, dapat berakibat fatal. Orang tadi salah-salah dicambuk atau dijebloskan ke dalam penjara atau, bila bernasib sial dapat saja dengan entengnya dibunuh.
            Udara sore masih terasa panas. Setiba di istana sang guru sufi dipersilahkan masuk menemui sang raja. Sang raja di damping oleh permaisurinya dan dayang-dayang sedang berleyeh-leyeh (duduk santai) di kursi singgasannya. Di sekelilingnya para pembantu dan pejabat kerajaan.
            Setelah dipersilahkan duduk, sang raja kemudian membuka pembicaraan dengan berkata kepada sang guru sufi: “Apakah engkau berminat menjadi penguasa?”
            “Saya tidak tertarik sama sekali,”sahut guru sufi.
            “Bukanlah berkuasa itu menyenangkan ? Engkau duduk di sini sembari tangan kanannya menepuk kursi, engkau bisa menyruh dan bertindak sesuka hati,”kata sangraja.
            “Iya, benar. Tapi, kursi dapat menghancurkan,”sahut sang guru sufi
            “Apa maksudnya?” tanya sang raja dengan mata terbelak.
            “Kekuasaan menjadikan mata adan telinga buta,” jawab sang guru sufi.
            “Kenapa begitu?” tanya sang raja penasaran.
            “Bila kita berkuasa, maka dia cenderung tidak akan mau mendengarkan kritikan, saran, bahkan kebenaran, membuatnya buta hatidan pikiran,” jelas sang guru sufi.
            “Tapi bukankah raja dapat mengangkat seorang penasihat yang arif dan bijak?”
            “Wahai sang raja, apakah baginda yakin kalau kekuasaan itu dapat berlangsung abadi?” kini gentian sang guru sufi balik bertanya.
            Raja tampak hanya bisa terdiam. Sang raja kemudian menatap sang guru sufi.
            “Bila kekuasaan itu abadi, tentu kekuasaan tidak akan berpindah dari tangan baginda. Lalu, kenapa terdapat bayak istana dan kuburan raja?” kembali sang guru sufi bertanya.
            Raja kembali hanya mampu terkesima. Raja sepertinya sedang mendapat kritikan. Tapi, dia hanya dapat manggut-manggut sambil mengelus-ngelus kumisnya.
            “Bila seorang raja tidak mau mendapatkan kritikan, maka dia akan merasa benar sendiri. Dan, bila dia berpikir berkuasa itu langgeng, maka dia akan menggunakan cara apapun untuk melanggengkannya. Padahal, kita telah banyak menyaksikan istana raja dan kuburan raja-raja,”lanjut guru sufi.
            Suasana di istana menjadi sontak senyap. Semua orang yang hadir tersihir oleh keberanian sang guru sufi. Tapi, entah bagaimana, tiba-tiba sang raja menbar senyuman. Suasana yang nyaris membeku pun mendadak mencair seketika.

b. Things to think
Kekuasaan adalah “barang” atau “komoditas” yang paling mahal dan paling diperebutkan. Demi sebuah kekuasaan, orang rela kehilangan segalanya. Tidak hanya tenaga, pikiran, harta tapi juga harga diri dan bahkan keyakinan agamanya sekalipun, tak jadi soal.
            Kita masih inat benar, demi pelagsingan kekeuasaan orang kemudian rela mendatangi dukun, paranormal, kiyai atau apalah namanya yang katanya dapat menjaganya agar dapat berkuasa. Bahkan, presiden Negara super modern Amerika Serikat, Ronald Reagan juga istrinya Nancy, memilki seorang astrolog. Kedudukannya untuk menentukan hari baik dan naas presiden. Sehingga, jadwal kepresidenan pun harus mengikuti hasil ramalan sang astrolog terlebih dahulu. Memang itu tidak masuk akal. Tapi, itu real terjadi.
            Di Negara kita dulu juga tersebar desas-desus kalau ada beberapa orang pintar semacam dukun, paranormal atau kiyai yang bolak-balik dan mondar-mandir  keluar masuk istana Negara. Begitu juga gosipkalau sejumlah menteri juga ada yang mendatangi beberapa dukun agar tidak digeser atau dicopt dari jabatannya.
            Kekuasaan dalam bahasa Machiavellian memang murni pengumpulan kekuasaan dengan cara apapun. Bahkan, cara-cara yang bertentangan dengan moral, etika dan agama pun tak jadi masalah. Yang penting demi sebuah tujuan yakni kekuasaan, semua cara boleh ditempuh.
            Hal yang demikian itulah yang kemudian menyebabkan timbul anggapan bahwa kalau meraih kekuasaan disamakan dengan pertarungan kekuasaan. Memprovokasi sebuah kelompok untuk dijadikan umpan dan kemudian membuatnya “kambing hitam”tidak segan-segan dijalankan. Ratusan dan bahkan ribuan, nyawa tak berdosa dan tak tahu-menahu pun bisa jadi tumbal kekuasaan orang-orang yang haus kekuasaan.
            Lalu, apa yang dilahirkan dari kekuasaan yang berwatak hitam seperti itu? Orang seperti itu bila sudah berkuasa akan menyalahgunakan kekuasaan demi ambisi diri, korupsi, merampok negeri, menjual nergeri, dan membunuh rakyat sendiri.
            Adakah sesuatu yang diharapakan dari orang yang memandang kekuasaan itu sendiri? Jawabannya tidak ada.
            Tapi, dalam ajaran Islam kekuasaan atau kepemimpinan adalah lebih dekat kepada kepercayaan dan memikul amanat Rasullulah SAW dan para khalifah sesudah beliau adalah contohnya.
            Khalifah Abu Bakar r.a. sebelum meninggal harus mengembalikan untannya kepada Umar bin Khattab r.a. karena dianggap akan menjadi beban ketika mengahadap Allah SWT. Abu Bakar r.a juga tidak segan-segan membantu orang miskin memeraskan susunya.
            Khalifah Umar r.a. adalah khalifah yang sangat adil dan tegas. Ia tidak berani mengambil sedikit pun dari uang Negara. Bahkan, untuk sepotong kain penutup dirinya yang cingkrang- karena tubuhnya agak jangkung, beliau tidak berani. Beliau juga meronda sendiri pada malam hari ingin tahu kondisi rakyatnya.
            Begitu pula dengan Utsman r.a. dan Ali r.a., mereka adalah para wara’- orang yang selalu menjaga perutnya dari masuknya barang haram.
            Meski begitu, juga perlu diingatkan bahwa para penguasa hitam yang gemblung itu juga muncul di dalam lembaran sejarah Islam. Sebagai contoh saat Yazid, putra Muawiyah, berkuasa yang dikenal sangat kejam dan bengis. Dia telah menghabisi keturunan keluarga Ali r.a., Hasan dan Husain, melalui pembantaian paling nista di Padang Karbala. Bahkan, kedua kepala cucu Nabi Muhammad SAW tersebut setelah dipenggal dijadikan mainan mirip bola.
            Lalu, ada apa dengan sufistik? Kata “sufi” tidak selalu dikaitka dengan para pertapa muslim atau darwis      sũf artinya kain wool(bulu domba yang kasar), karena kebanyakan sufi zaman dahulu mengenakan kain wool. Tapi sufi juga mengandung penegertian mereka yang memiliki kebersihan(soofin    suci) jiwa,kearifan, kepedulian, welas asih kepada sesame. Dan tokoh seperti itu kata Guy Hendrick dan Kate Ludeman dalam The Corporate Mystic justru dimiliki oleh para manajer dan pimpinan di perusahaan-perusahaan. Bahkan, mereka bernai menyatakan bahwa selarag ini kita akan kecewa bila mencari sufi di masjid, gereja, vihara dan kalau boleh saya tambah di pesantren-pesantren. Ini mengejutkan! Tapi mereka berdua telah melakukan penelitian dan wawancara ratusan jam.

4 comments:

  1. bale..... mantap bro. Wesss mantap.....

    ReplyDelete
  2. bagus blog-nya nih...cuma kata-katanya perlu di edit lagi.msh banyak kata2 yg ga betul huruf2nya...
    LANJUTKAN....wkwkwk...

    ReplyDelete
  3. cari2 aja tulisan baru dr google and postkan di blog ini. dan jgn lupa buat account adsense dan cari link2 affiliates promosi web spy bs dpt duit.

    ReplyDelete
  4. thx ya atas sarannya.saya akan mencari cerita-cerita yg menarik dan bermanfaat.

    ReplyDelete

Habis baca enakkan koment

Motivation Today